Zulkarnain 222

Kata Ar-Ruwaibidhi berasal dari hadits Nabi, sebuah hadits yang berbicara “para orang bodoh yang sok pakar” , seolah sangat mengerti agama, sekalipun sangat dipaksakan. Berbagai macam cara dilakukan ditengah masyarakat, dengan tujuan dapat memberi pengaruh pemikiran kepada orang lain. Biasanya yang sering jadi korban adalah orang bodoh pula, meskin segudang titel perguruan tinggi ditangannya. Karena orang bodoh memang tidak harus terdiri dari mereka yang tidak sekolah tinggi, tetapi banyak juga kalangan alumnus perguruan tinggi dengan segudang titelnya terlalu bodoh dalam memahami agama.

Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Maksud hadits itu mengandung makna kemaslahatan buat orang banyak untuk menghindar dari para intelektual yang sekedar bisa bicara agama, padahal tidak memiliki kemampuan dan refrensi yang valid dalam bicara agama. Kedudukannya ditengah masyarakat lebih bersifat memaksa diri dengan hany sekedar lencana perguruan Tinggi, namun kalau bicara dalam porsi agama, lebih dominasi nafsu yang seolah pakar, ahli mengalahkan orang orang yang dedikasi dari zaman ke zaman keemasan Islam.

Orang orang bodoh agamaa dari kalangan intelektual muslim, biasanya selalu terdorong membuat rumusan rumusan baru yang dilakukan guna membuat terobosan pemikiran peralihan Isu dari Islam masa lalu pada istilah Islam moderen secara manipulatif. Berbagai tafsir yang dihadirkan para ulama dipilah menurut cara yang tidak adil dan mencoba mengelabui umat Islam dengan konsep Islam yang seolah berkemajuan, padahal Islam sekalipun tan istilah berkemajuan, memang secara dinamis akan tetap maju. Masalahnya konsep Ruwaibidhah ini kebelenger bicara Islam, selalu menampilkan tafsir arogan kalangan orang orang idiot yang bernama Profesor gendeng. Mengapa harus demikian ?….Ar-Rawaibidhah biasanya selalu memberikan ta’wil logika dengan menolak refrensi klasik atau memanipulasi data klasik untuk membenarkan sebuah pendapat dianut mereka, meskipun tidak sejalan dengan Islam.

Rubaidhah lebih pada retorika intelektual gadungan, menempatkan agama sebagai alas menebar pendapat yang dipastikan bersebrangan. Misalnya berkaitan dengan munculnya gagasan Islam aktual, modernisasi Islam, Reaktualisasi Islam, macam Nurkholis Majid, Membumikan Islam [macam Gusdur ], atau Islam Nusantara yang menggagas kenabian palsu seperti Profesor Dr. Said Aqil Shiroj MA, yang berusaha melahirkan Islam sebagai janin pemikiran Nusantara, bukan Islam yang lahir dijaman Nabi.

Bedanya Islam Nusantara dan Islam abad Pertama itu sangat banyak.

  • Dijaman Nabi Islam itu bersifat dinamis dan berkembang,selalu pada refleksi tauhid, dengan menempatkan Tauhid sebagai penggerak dakwah Islam. hidup dan mati dipertaruhkan untuk tegaknya hukum Islam di bumi Mekkah dan Madina. Perang menjadi pilihan dalam melakukan dakwah Islam, memang pedang dijunjung tinggi seiring perjalanan dakwah yang dilakukan Rasulullah. Jihad itu terus berkobar dalam merombak pemikiran suatu negeri. bandingkan dengan ekspansi para penjajah yang berusaha menggusur penghuni sebuah negeri, berbagai bentuk kekejaman ddilakukan oleh mereka, termasuk memperkosa dan membunuh. Tetapi mengapa ketika Islam angkat senjata disebut teroris. Apa mungkin Islam yang kita nikmati sekarang itu bisa ada, kalau sejarah Islam tidak dimulai dengan perang, berbagai perang Rasulullah adalah bukti kalau Islam itu memerlukan Jihad, bukan sekedar basa basi di media tentang kehebatan Islam, padahal mereka yang menyampaikan tidak pernah membuat Islam bebas, melainkan hidup dengan menjual ayat ayat Allah lewat berbagai media.
  • Banyak muslim pandai dari kalangan Ar-Ruwaibidhah, mencoba mengatur Islam dengan kemasan kemasan intelektualnya, bertindak sebagai eksikutor yang mempradilkan Islam sebagai biang kerok kerusuhan sebagaimana yang dianut oleh yang mereka tuduh “teroris”. Arruwaibidhah ini biasanya mencoba membaptis Islam dengan konsep konsep aqilyah, hingga menjadi semacam hukum kepada semua orang, bahwa Islam yang benar adalah Islam Keindonesiaan, Islam Nusantara, Islam nenek moyang, yang lainnya tidak benar. Begitulah lontaran pemikiran yang ditebarkan mereka, untuk menghapus Islam dari muka bumi, yaitu melakukan masturbasi aqidah Islam, melumpuhkan pemikiran Islam, mengganti fondasi islam dengan kekuatan aqliyah semata. Aqliyah ditempatkan sebagai hakim menvonis “Islam itu salah dan Islam ini benar”.
  • Arruwaibidhah berpikir:  Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, dengan berusaha menepiskan kata Jihad dalam pengertian yang utuh, takut kalau Jihad harus diartikan perang, dan muncul aqidah hubbud Dunya , juga takut mati, sehingga memanipulasi pengertian jihad tidak pada standar yang benar.
  • Arruwaibidhah menempatkan Islam sebagai kebagusan kata belaka alias membangun kata kata dakwah sebaiknya baiknya untuk memalingkan manusia dari jalan Islam yang benar menuju Islam berdasarkan rumusan mereka. Dan wahyu hanya berlaku selama sesuai dengan otak mereka.
  • Terlalu banyak Institute institute Islam yang melembagakan diri dengan menyuarakan semboyan Islam semboyan Islam berdasarkan faksi pemikiran yang sebenarnya anti Islam. Mereka didanai oleh berbagai LSM asing dalam berupaya menghancurkan Islam Itu sendiri. .
Advertisements