Kalau Engkau Bodoh Jangan Bilang Orang Lain Bodoh Kang
Kalau Engkau Bodoh Jangan Bilang Orang Lain Bodoh Kang

Tulisan ini hanya sebatas sorotan penulis terhadap kilah seorang oportunis yang berkedok “Ahlussunah Waljamaah”, seorang yang banyak melucu dengn pernyataan pernyataan gemasnya, Prof Dr. Said Aqil Syiroj MA, yang terkenna dengan sapaan “Kang said. Namun kalau  membaca latarbelakang Kang Said yang mengemis ngemis  dengan Ddisertasenya doktorolnya di Arab Saudi, mencerminkan sosok Kang Said yang “Bunglon” tidak punya prinsip Islam yang kuat dan teguh pendirian, karena bisa saja berobah robah sesuai dimana Kang Said Melata.

Tulisan Kang Said yang arogan dengan menonjolkan prilaku intelektual muslim sombong tercemin pada tiap ujar katanya yang mengundang tawa dan senyum pembacanya, tatkala melontarkan kata kata : “Orang yang berjanggot bodoh”, “Muhammadiyah Goblok”, ucapan yang menonjolkan ketidak mampuannya menciptakan teori yang berharga dikalangan umat. Mungkin tidak lebih dari pendeta paranoid yang takut kehilangan umat dan jamaah, sehingga menebar kata kata sampah yang tidak berharga, justru terkesan menabuh genderang perang, yang lantang menyuarakan permusuhan ormasnya kepada ormas lain.

Kejahatan berkedok Intelektual yang menghasilkan kesimpulan “sampah” tercermin dalam kata katanya yang menuai kontra dari berbagai pihak, seandainya berbobot dan bisa mententramkan dunia Islam tentu itu bagus, tetapi tampilan kehinaan yang menjadi asas penghinaannya terhadap kelompok dan ormas lain, bagian dari kebodohan Kang Said yang bersusun [ Murakkab]. Bagimana mungkin sebesar Kang said yang begelar Profesor justru menampilkan tulisan “sampah”, memancing emosi sesama Islamnya, hanya dengan suatu harapan yang menjadi tujuannya.

Alangkah bodohnya NU memilih kang Said, atau memang sudah tidak ada lagi di NU tokoh yang sehebat Kang Said, sehingga orang seperti Kang Said bisa jadi sosok ketua PB NU, yang antagonis, terbelakang dan menyimpan dendam politik NU masa lalu. Terasa sekali bagaimana bisa seorang Kang Said dipertahankan sebagai ketua PB NU, apa ini menunjukkan bahwa di NU sudah tidak ada lagi orang baik, sehingga seorang kang Said layak jadi ketua NU. Yang jelas periode Kang Said membawa bencana terkahadap persatuan Islam, selain masalah masalah fundamental pemahaman agama yang sering jadi sasaran dengan tuduhan khwarij, juga ada usaha melahirkan konflik antara sesama umat Islam.

Kempemimpinan Kang Said dari sisi kata “Pancasilais”, apanya yang bisa disebut Pancasilais, ucapannya yang konyol, yang melahirkan sekte anti wahabi, bukan saja menyudutkan salafy, tetapi juga Muhammadiyah, Persis, Al -Irsyad dan kelompok Islam lainnya yang seolah afiliatif ke Imam Ahmad bin Hambal. dimana letak pancasilaisnya Kang Said yang membawa NU kedalam upaya perang bersaudara, dengan penghinaan penghinaan yang digagas Kang Said, bukan saja para tokoh NU yang mengekor perkataan Kang Said, banyak orang awampun berpiki, bahwa doktrin Kang Said benar, hanya karea sebuah perpersipsian Kang Said tentang Wahabi, juga gelar perkara ditengah umat dengan buku modus provokatis yang berisi tulisan hasutan dan refrensi palsu tentang wahabi, diyakini oleh pengikutnya sebagai sebuah kebenaran, misalnya buku “Sekte Wahabi berdara” yang melukiskan wahabi secara tidak benar dan hanya berdasarkan kebodohan sipengarang yang biasa menulis cerpen, persis cerita “wiro sableng” yang sekedar tertumpu pada hayalan penulisnya, tidak memiliki refrensi yang bisa dipertanggung jawabkan.

Selain itu nuansa pemikiran yang diolah sebagai pendapat Kang Said sebagai tokoh PB NU misalnya menyebut “Yang tidak tahlilan tidak pancasilais” lalu sejak kapan orang Tahlilan bikin pancasila, dan siapa penggagas dan pencipta pancasila, apakah mereka yang kepala mengikuti perputaran tasbih yang melafadzkan sejuta tahlilan, atau juga orang orang yang menggoyang goyangkan dan mengeleng gelengkan kepala mereka itu yang melahirkan Pancasila, sehingga layak disebut pancasilais, sejak kapan Kang Said ?.

Coba buka sejarah bangsa ini, siapa para pelaku sejarah, mereka yang berputar putar diku buran melafadzkan tahlilan atau mereka yang tidak pernah tahlilan model NU. Sejak jaman perang belanda misalnya hingga Jepang, Inggris dan pra kemerdekaan, dan menjelang kemerdekaan, berapa banyak tokoh muslim yang tidak tahlilan lebih agresif dan lebih perhatian dalam upaya “memerdekakan Indonesia”. Taruk saja Sukarno adalah sosok  yang mengekor pola pikir wahabi, tidak pernah tahlilan, juga Safrudin Prawiranegara, Agus Salim, Kibagus, Kasman mereka yang terlebat langsung dalam pembentukan negara Indonesia, bukanlah orang orang yang suka tahlilan sebagaimana yang digambarkan Kang Said, apalagi Pak Natsir, sosoknya yang pemberani,. bukan sekedar sosok manusia yang jualan jamu seperti Kang Said, membodoh bodohkan ormas, padahal dirinya lebih dan sangat bodoh dari orang orang yang bodoh.

Sejarah membuktikan bahwa tahlilan model NU, hanya berupa media mencari keuntungan dari orang orang yang mati, bisnis doa, dan melahirkan sikap sikap dan benih benih perpecahan, terlebih ajaran tahlilan orang mati model Nu muncul dari sebuah gambara agama lain, lalu dikemas dengan bacaan bacaan susunan mereka. Lalu sejak kapan ada klaim kalau mereka yang tahilan itu Pancasilais, tidak salah tu Kang Said.?

Advertisements