KRISTENISASI

Jakarta, Ibarat ladang yang digarap oleh kepentingan orang banyak, tentu tidak lepas dari sebuah keinginan kuat membawa Jakarta kedalam “Bencana Aqidah”. Terlebih Ibu Kota Negara Indonesia ini adalah parameter wilayah lain dalam bidang pembangunan, sudah pasti tidak menyimpang dari keinginan sebuah kelompok tertentu membawa Jakarta sesuai keinginannya. Apalagi Jakarta mayoritas penduduknya beragama Islam, meskipun banyak suku dan agama campur aduk didalamnya, tetapi kekuatan Islam lebih dominasi jumlahnya dari pada yang lain.

Namun berbicara kwalitas penduduk Islam di Jakarta memang mayoritas, namun tidak terjamin imannya untuk tetap berada dalam agama Islam, hal inilah yang dipandang sebagai peluang besar bagi kristen untuk mengembangkan sikap instoleransi dengan mengajak muslim keluar dari agamanya. Perang sudah dimulai, kendaraan antii Islam dengan berbagai jenisnya digunakan dalam memudahkan gerakan pemurtadan mencapai tujuan.

Fakta berbicara, memastikan gerakan salibiyah tidak pernah diam, terus bergerak untuk menghancurkan Islam di Jakarta. Karena Jakarta tumpuan utama manusia dari jenis suku dan latar belakang, ada yang meng-inginkan Jakarta berada dalam naungan Injil seutuhnya, sebagaimana tutur pendeta pendeta radikal yang mengatas-namakan Yesus, guna memurtadkan muslim di Jakarta. Hal ini bisa kita baca dalam tulisan tulisan mereka tentang Pemurtadan Muslim Jakarta:

DR.Ruyandi Hutasoit yang pada tahun 2005 di Surabaya pernah mengatakan, “sudah saatnya umat Kristen harus menguasai struktur dan sistem walaupun kita tidak menguasai massa, tetapi kalau kita kuasai sistem itu, disini kita punya tantangan yang besar dan salah satu yang harus kita garap kuat adalah KPK(komisi Pemberantasan Korupsi) itu sudah jelas banyak orang yang beragama Kristen disitu dan kita punya target juga kita akan bongkar semua, khususnya para tokoh-tokoh pejabat Muslim ini, untuk bisa dibongkar semua kasus korupsinya hingga bisa rusak citra mereka dimata umum, jadi ini sekenario besar dan terselubung yang ….apa namanya harus dirancang secara sistematik ke depan buat kita, terus menyiapkan kader-kader PDS ke semua jajaran terutama di yudikatif itu adalah lembaga yang sangat pontensial dimana banyak SDM Kristen yang punya kekuatan punya kemampuan untuk didalam ini, sudah punya kekuatan yuridis juga melakukan judifikasi terhadap pejabat-pejabat yang sudah keluar dari jalur moral, etika ataupun sistem yang ada.  Nah kita budayakan dan manfaatkan link kita di KPK supaya itu harus terus berlanjut semakin lama semakin hari juga akan menegakan eksistensi orang orang Kristen yang ada dipemerintahan, dengan memberikan negative tinking kepada pejabat-pejabat Muslim.”  Dan lebih lanjut lagi DR Ruyandi Hutasoit mengemukakan : “Sudah saatnya istana Negara, terpampang lukisan Tuhan Yesus, atau lukisan perjamuan kudus, sudah saatnya di istana berkumandang lagu pujian dan penyembahan bagi sang raja disurga, sudah saatnya dari istana Negara dinaikan doa doa syukur ! sudah saatnya di istana merdeka diadakan kebaktian, ibadah, persekutuan doa dari orang-orang Kristen! Ingat ! kita adalah pemenang mari kita bersatu  dan mari kita bergandeng tangan!.”

Makna Kritenisasi
Kristenisasi adalah sebuah gerakan keagamaan yang bersifat politis kolonialis, Imperialis. Muncul akibat kegagalan perang salib sebagai upaya penyebaran agama Kristen ke tengah-tengah bangsa-bangsa di dunia ketiga, terutama di tengah-tengah orang islam. Sasaran utamanya mencengkram kekuasaan terhadap bangsa-bangsa tersebut. Kristenisasi lahir sebagai gagasan dan aksi dogmatis untuk tujuan tujuan mendombakan manusia dalam gembala Yesus lewat berbagai aksi dan demontrasi sosial, menyuguhkan agama dengan cara cara licik atau tipu daya, berupa bingkisan iman kristiani. Kaum Sending selalu mengedepankan pendekatan imperes, melalui senarai kehidupan masyarakat sasaran Kristenisasi.
GAGASAN KRISTENISASI
Kristenisasi melahirkan sikap sikap anti terhadap perdamaian, dengan melagukan perdamaian semu menurut alkitab, melalui penyulingan jiwa manusia besar besaran melalui keyakinan “penumpahan darah Yesus”. Tentunya tidak sekedar dongeng mengerikan dari sebuah jaman yang penuh tantangan, masih ada manusia yang berpikir mundur, tidak pernah terlintas untuk menobatkan ajakan menyayangi agama dengan sopan santun dan ilmiah. Masih tenggelam dalam sikap sikap Imperialisme sejati, seperti menebarkan kebencian terhadap suatu agama melalu metode “CACI MAKI”. Dorongan dan ajakan masuk agama Kristen melalui suatu nalar paling nakal dikemukan oleh banyak kalangan Gerejani:

Ery Prasadja, Dekan Akademi Institute for Community and Development Studies
(ICDS), dalam buku “Transformasi Indonesia” “Penginjilan, penjangkauan
jiwa baru (pemurtadan) dan perintisan jemaat tetaplah menjadi misi dan
tanggung jawab gereja, –tetapi gereja memiliki misi dan tanggung jawab yang
lain, yaitu menghancurkan sistem dan struktur yang jahat, sistem dan
struktur yang berdosa tersebut harus dihancurkan tanpa menunggu pimpinan
negara dan seluruh rakyatnya bertobat kepada Tuhan Yesus Kristus— ini adalah
tugas gereja.”….

Suatu doktrin gereja dalam melumpuhkan karakter berpikir ilmiah tentang sebuah agama, diperankan dalam penginjilan dengan kerinduan yang membahayakan orang lain, illustrasinya bahwa ajakan murtad seperti kutipan tersebut merupakan suatu tuntutan pengejawantahan misi kristenisasi tanpa menunggu pluit penguasa, kalau perlu merusk system yang ada, karena mereka semua yang ada dinegri ini selain pengikut Kristen dianggap orang berdosa. Ini miri konsep Freemansonry, atau misi agama ini sedang menebar badai permusuhan dengan merusak segala tatanan kehidupan, seperti dituturkan.dalam Iman Freemansonry.

Tambahnya: Dalam buku “Meraih Kemenangan di Daerah Musuh”, Pdt. Dr. Larry Keefauver,
menjelaskan tentang kunjungan Peter Youngren bersama *Global Harvest Force*-nya
ke beberapa negara mayoritas non-Kristen –Asia (termasuk Indonesia), Afrika,
dan sebagian Eropa) dan melaksanakan Festival Yesus. Mereka bertujuan
mendobrak pertahanan jendela 10/40, yaitu pertahanan setan (Roh Kuasa
Gelap). Dalam buku tersebut dengan berani mereka terus melakukan
gerakan-gerakan terbuka di daerah yang umatnya masih mayoritas berdosa
(belum jadi Kristen).

Sama sekali tidak mencerminkan arti sebuah bangsa, tetapi gambaran eskalasi puak puak keagamaan, karena setiap orang yang berbeda dengan Kristen dianggap kuasa gelap, pertahanan setan, ini bentuk rasisme baru yang dibenturkan oleh kristen, termasuk kekuasaan kekuasaan diluar keyakinan Kristen . Bukan main upaya pelestarian budaya kristenesasi oleh misionaris kristen dalam menerobos cagar keimanan orang lain, terkesan sangat arogan dalam mempelopori aksi aksi pemurtadan diberbagai belahan dunia. Sepertinya umat selain Kristen adalah manusia manusia berdosa yang tidak akan diampuni kecuali datang kedalam genangan darah Yesus, baik dalam keadaan terpaksa atau karena kemauan sendiri.

“Demikian juga bisa diperhatikan pernyataan Robert S. Speer –dikutip oleh AWF
Idenburg— untuk membela politik pengkristenan terhadap dunia Islam terutama
di Indonesia, Idenburg (Gedenkboek ARP, 187, 8, p. 220) menyatakan, “Pilihan
untuk dunia bukanlah Muhammad dan Kristus. Tapi hanya Kristus. Kristus atau
hancur dan mati. Islam (yaitu penyerahan kepada Tuhan) yang seharusnya
adalah menyerahkan diri kepada Kristus. Baru boleh bicara tentang hidup dan
merdeka.”

Pilihannya adalah maju mati, mundur mati, adalah sebuah klimak dari sikap iman Kristen dalam upaya mewujudkan “KAUM YESUS dan PERADABAN BARBAR” atas dasar stigma negative terhadap prilaku lain diluar agama Kristen. tentu akan memilih yang pertama untuk mewujudkan harga agama yang dideklarasikan di Antiokhia. Kendati babak akhirnya harus menumpahkan darah orang banyak diluar keimanan agama ini. Bukan otopis perorangan tentunya, melainkan rencana matang kaum fundamental Kristen yang tidak mau disebut pengecut dalam mempromosikan agama. Kemerdekaan yang dirasakan bangsa ini dalam mata mereka bukanlah kemerdekan yang sebenarnya, kecuali setelah Indonesia jatuh kepangkuan Kristen, Bandingkan dengan Gagasan Khilafah Islamiyah yang dibenturkan dengan terorisme oleh tokoh tokoh kristen, bukan tidak mungkin menyiratkan sebuah teori untuk mengubur Islam Indonesia.

Peras otak dikalangan tokoh tokoh Kristen untuk tujuan pemurtadan tidak bisa dianggap enteng, usaha mereka mendekati kaum muslim di Indoensia dengan sikap keji adalah cara cara menjijikan, dapat pula disebut tantangan perang terhadap Islam. Sekalipun mereka minoritas di Indonesia, tetapi merupakan kelompok yang menggunakan perangkat kroninya yang ada di luar negri.

WAKTU NYA MEREKA BERTINDAK

{Dr. Bambang Widjaja, Gembala Sidang Gereja Kristen Perjanjian Baru, dalam
buku “Transformasi Indonesia” menjelaskan, “Sebab apabila kita berbicara
tentang tuaian, kita sedang berbicara tentang suatu periode, suatu kurun
waktu. Tuaian merupakan suatu periode, artinya ada batas awalnya dan ada
batas akhirnya. Bila batas awal belum tiba, kita tidak akan memperoleh
hasil tuaian yang maksimal. Sedangkan apabila batas akhir terlampaui, gandum
yang tidak tertuai, akan membusuk di ladang.”

Pdt. Dr. Yeff Hammond, Pemimpin Gerakan Sekota Bedo dalam buku yang sama
menyatakan, “Hal-hal yang sama juga sedang terjadi di Indonesia sehingga
kita perlu mengambil langkah-langkah iman dan meyakini Kuasa Tuhan untuk
memulihkan, memberkati, bahkan mentransformasikan bangsa Indonesia supaya
semakin bertumbuh. Fokus pada tahun 2005 sebagai tahun tuaian dan tahun
2020 sebagai tahun penggenapan Amanat Agung di Indonesia berangsur-angsur
berubah dari impian menjadi realitas.”}

Gambaran luar biasa dari kaum gerejani dalam menuturkan gerak oprasionalnya tuk menggapai target sesuat waktunya. Tertulis atas rencana matang mereka dalam mengepung muslimin di Indonesia melalui target waktunya, awal dioprasikan mesin pembunuh Iman Islami, hingga batas akhir sebagai kesimpulan akhir perjuangan memurtadkan mayoritas muslim, apakah berhasil atau tidak. Menurut mereka tergantung dari kemapaman dan kematangan usaha dalam segala aksi aksi pemurtadan yang terang terangan atau terselubung. Fantastis, bisa diluar dugaan Islam, bila gerak gerak semu dan gerak pasti mereka mencapai tujuan. Indonesia ini akan menjadi lautan salibiyah. Tetapi sebaliknya akan membusuk diladang ( akan terjadi caos) bila usaha usaha mereka tidak mengubah pendirian Islam Indonesia sebagai penganut Keyakinan Risalah Nabi Muhammad Shallallahu’alai Wasallam. Batas waktu terfokus di tahun 2005 sebagai tahun tuaian ( total usaha mereka memurtadkan kaum muslimin ) dan tahun 2020, sebagai akhir batas waktu Indonesia Menjadi “Kristen Raya”. Yang disebut dengan Istilah mereka “sebagai tahun penggenapan amanat Agung”..Terobosan terobosan kristenisasi oleh laskar Kristus dibangun diatas keyakinan Amanat Agung, berdasarkan fakta tertulis dalam alkitab, tentunya mengandung konsekwensi wajib ditunaikan, demi tercapainya maksud dan tujuan berdasar waktu yang telah diundang undangkan oleh mereka dalam keputusannya.
{Pdt. Dr. Bambang Widjaya, Gembala Sidang (Pimpinan) Gereja Kristen
Perjanjian Baru, dalam buku “Transformasi Indonesia” menulis, “Berbagai
masalah datang bertubi-tubi tanpa henti. Tidak heran masyarakat menjadi
masyarakat yang kelelahan. Lelah karena menanggung masalah yang berat.
Selain itu, mereka juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan alias
masyarakat yang sedang panik. Dan, yang lebih parah, mereka juga tidak tahu
ke mana mereka harus mencari pertolongan. Itulah keadaan dari masyarakat
yang lelah dan telantar. (Keadaan cocok dengan gambaran Mathius 9: 35-38)

Bukankah keadaan itu yang sedang dilewati oleh bangsa kita? Kegelapan moral
dan depresi ekonomi yang berat? Masyarakat yang lelah dan telantar? Ya,
itulah sebabnya saya tidak merasa terlalu berlebihan untuk berkata bahwa
Indonesia *siap menghadapi tuaian (pemurtadan) yang besar.* Indonesia Siap
Mengalami Transformasi.”} dikutip dari buku transformasi Indonesia

Bila ditarik pengertiannya:

1. Kondisi masyarakat Islam menghadapi masalan Interen, Alerginya sebagian masyarakat Islam terhadap dunia Politik, dan Politik Islam yang pecah belah memang terasa pada Tahun 2005, dan suara yang tidak dominan, dan Orang orang Islam yang berpikiran Pragmatis nasionalis, tokoh tokoh Islam yang tidak menghendaki berdirinya partai Islam, seperti munculnya PAN (komunitas Muhammadiyah, PKB (Komunitas NU), sebagai partai terbuka dan pengembosan partai partai Islam telah melahirakan inspirasi kristen bahwa, kaum muslimin telah goyah dalam memegang prinsip Islam. Tidak bisa disatukan dalam suatu persepsi agama yang disebut “UKHUWAH ISLAMIYAH”. Kesibukan kaum muslimin menciptakan jalan jalan alternative terhadap bangsa ini dinilai sangat menguntungkan mereka.

2. Kaum muslimin disebut juga sebagai masyarakat yang Lelah dan Panik, masyarakat yang mulai terpisah dari keyakinan agama sepenuhnya, lebih memilih memikirkan perut, sehingga tidak memungkin perduli terhadap agamanya. Keluh kesah kelaparan dan sulitnya mencari kerja dalam kelurga keluarga muslim, hirup pikuk keterlantaran dimana, kemerosotan ekonomi dan hancurnya system tolong menolong dalam tubuh muslimin dinilai sebagai lahan paling menguntungkan untuk digarap untuk menjad domba domba gembala gerejani.

3. Kegelapan moral, mungkin tepatnya disebut amoral, manusia yang tidak bermoral, sesame Islamnya saling tuduh menuduh, saling gontokan, saling jotos, saling bantai, persaingan politik yang mengundan petaka, akibat arus demokrasi. Melebarnya jaringan penyesat ajaran agama di Indonesia, mulai dari ahmadiyah, Lia Eden, Ahmad Moshaddiq, dan JIL (jaringan islam libral), suku suku yang teraduk aduk, pertikaian antar suku merupakan tuian Kristen yang memang sangat diharapkan, yang tentu saja dinilai bahwa bangsa ini (mayoritas Islam), depresi, panic, tidak tahu arah, kemana harus mencari pertolongan. Disini Kristen berusaha menempatkan sebagai dewa penolong dan berusah menghutangkan jasa sehingga lahir anggapan bahwa Kristen sangat berjasa, dan yang pasti akan ada balas jasa, murtad dari Islam.

Sasaran Utama Dalam Pemurtadan

(Ir. Drs. Bonar Simangunsong, Msc. SE. seorang tokoh Kristiani dalam Majalah
Kristen “Spirit”, edisi 014, hal. 9, Thn. 2003, menyatakan, “… Maka tidak
mustahil umat Allah (umat Nasrani) akan tampil beda dengan orang lain (umat
lain), menjadi berkat untuk orang lain, bahkan memimpin
pemerintahan,,perusahaan, pendidikan, dan
,posisi-posisi kunci, yang pada akhirnya semuanya itu dipersembahkan untuk
kemuliaan Allah.”)…

Kesatuan gerak dalam sepak terjang kretenisasi ini tercermin dalam kalimat “Tidak mustahil dan seterusny….” Dengan sasaran yang jelas. Tertumpu pada titik Sentral dan sub sub kegiatan bangsa, seperti merebut kepemimpinan Tertinggi dalam pemerintahan (yang tentu saja di tiupkan oleh musuh musuh Islam, wacana presiden Kristen lewat genta demokrasi), menguasai seluruh perusahan, yang dipastikan sangat dibutuhkan oleh sebagian tenaga kerja dari kaum mulimin dan peluangnya untuk dimurtadkan lebih besar pula. Menguasai seluruh sector pendidikan sehingga bisa merobah corak pendidikan, disamping posisi posisi paling stretegis dalam ruang lingkup kekuasan, diantara seperti Departemin Agama, peran paling mentukan merubah haluan umat Islam. Suatu yang tidak mustahil untuk terjadi kalau umat islam tertidur dalam benturan benturan dan perpecahan, serta tidak mau duduk bersama menuntaskan masalah masalah intern umat itu sendiri.

{Selanjutnya Dr. Iman Santoso, Koordinator Komite Pengarah Jaringan Doa Nasional, dalam buku “Transformasi Indonesia” menjelaskan, “Apakah sebenarnya kota itu?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kota paling sedikit mempunyai dua
dimensi arti, yaitu kota sebagai daerah permukiman atau kota sebagai pusat
kegiatan seperti pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya.
Kota-kota dan transformasi dalam bidang-bidang kategorial seperti anak,
remaja, pemuda, mahasiswa, wanita, pengusaha, dan lain-lain}

Rumusan sang dokter ini tentu tidak sekedar kelakar dunia tulisan, tetapi sikap kekompakan gereja untuk tuian (pemurtadan) dalam suatu kurun yang ditetapkan sebagai kurun tuian, kurun meraih hasil usaha, demi amanat agung yang menjadi landasan terbangnya. Landasan menuju distinasi pencapaian Transformasi Indonesia. sebagai contoh, bagi kalangan kampus, mereka telah mendidik para
mahasiswa/i Kristiani untuk melakukan gerakan penginjilan di lingkungan
Mahasiswa. Salah satu bukti buku diklat penginjilan dalam kampus

Ungkapan yang paling menarik dalam aksi pemurtadan bisa dibaca dengan seksama

”Bangsa kita saat ini sedang dalam keadaan yang sangat genting, dan Tuhan ingin kita mengerti hal itu. Kesabaran Tuhan tinggallah sedikit, dan kita sebagai gereja harus peduli akan bangsa ini, jika tidak bangsa ini akan mengalami kehancuran. Dalam sisa waktu ini kita harus bergegas. Ada sesuatu yang Tuhan ingin agar kita lakukan. Yakinlah bahwa Tuhan tidak menginginkan bangsa Indonesia hancur. Namun, syaratnya hanyalah satu, yaitu Tuhan harus menemukan umat-Nya di negeri ini, yang percaya dan yang memberi hidupnya bagi Indonesia. Alkitab mengungkapkan bahwa Tuhan mencintai semua bangsa dan ingin agar mereka semua menyembah-Nya.” (buku transformasi hal. 49).
Seluruh bangsa harus masuk dalam barisan kristus, beribadah menurut cara cara mereka dan satu visi keimanan dengan mereka. Keadan genting bangsa menjadi tumpuhan perhatian kaum gerejani dalam menyatukan bangsa dalam konsep trinitas. Seolah naungan gereja adalam rimbunan kesejukan yang bisa memadukan hati manusia dalm bingkai keyakinan trinitas. Suatu gambaran telaah gereja terhadap Islam di Indonesia bukan lagi sebagai sahabat bangsa, tetapi musuh yang harus ditaklukan diatas satu titian Trinitarian. Memungkinkan setiap orang Kristen dalam program geraja, ikut dan turut serta memainkan peran dalam mempengaruhi kaum Muslimin, terutama kalangan terpelajar dan yang membidangi secaara khusus teoligi Trinitarian untuk bersama menggiring massa Islam bersatu dalam keimanan ketuhanan Yesus.
Dr. W.B. Sidjabat, dalam bukunya, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, juga menyebutkan hambatan misi Kristen dari kaum Muslim Indonesia:
“Saudara2, kenjataan2 jang saja telah paparkan ini telah menundjukkan adanya suatu tantangan jang hebat sekali untuk ummat Kristen… Dalam hubungan ini saja hendak menundjukkan kepada ummat Kristen bahwa sekarang ini djumlah jang menunggu2 Indjil Kristus Jesus djauh lebih banyak daripada djumlah jang dihadapi oleh Rasul2 pada abad pertama tarich Masehi… Pekabaran Indjil di Indonesia, kalau demikian, masih akan terus menghadapi “challenge” Islam di negara gugusan ini… Seluruhnya ini menundjukkan bahwa pertemuan Indjil dengan Islam dalam bidang-tjakup jang lebih luas sudah “dimulai”. Saja bilang “dimulai”, bukan dengan melupakan Pekabaran Indjil kepada ummat Islam sedjak abad jang ketudjuh, melainkan karena kalau kita perhatikan dengan seksama maka “konfrontasi” Indjil dan Agama2 di dunia ini dalam bidang-tjakup jang seluas2nya, dan dalam hal ini dengan Islam, barulah “dimulai” dewasa ini setjara mendalam. Dan bagi orang2 jang berkejakinan atas kuasa Allah Bapa, jesus Kristus dan Roch Kudus, setiap konfrontasi seperti ini akan selalu dipandangnja sebagai undangan untuk turut mengerahkan djiwa dan raga memenuhi tugas demi kemuliaan Allah.”.
Ketara sekali permusuhan mereka terhadap Islam, sehingga menyebut islam sebagai tembok hambatan dalam misi kristenisasi, Sejak abad ketujuh, telah ditabuh gerakan mendalami Islam dengan penyebaran pekabaran Injil kepada Umat Islam sebagai ladang garapan mereka, bahkan dalam salah satu tulisan pendeta lainnya umat Islam disebut padi yang sedang menguning siap untuk dituai. Dijaman Pak Harto berkuasa, Kristen menggunakan tangan tangan kekuasan untuk merombak keyakinan bangsa sebagaimana Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) 2000-2005, Natan Setiabudi mendefinisikan Transformasi dengan Trio RMS (Radius, Mooy, Sumarlin) di bidang ekonomi beragama Kristen (Transformasi Indonesia). Yang disebut merupakan kesempatan paling menyenangkan dan menggairahkan menancapkan SALIB di Indonesia. Bahkan kekecewaan mereka menjadi bukti ketika pak harto mulai merangkaul Islam, terutama setelah lahirnya ICMI. (waktu Suharto melirik kelompok lain, kelompok tersebut menuding bahwa dua kelompok (Kristen dan China) adalah biang keladi segala persoalan yang ada.” (. Tansformasi Indonesia hal ,45). Lanjutnya: ”Tugas gereja sebagai satu organisme yang telah ditebus oleh darah Kristus adalah meneruskan karya salib bagi banyak manusia yang diciptakan dan dikasihi-Nya, yaitu mereka yang bukan saja belum menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi mereka, melainkan juga mereka yang tertindas dan diperlakukan tidak adil… Dalam hal ini, gereja adalah alat yang dipilih Tuhan untuk menjadi agen transformasi.” (Tranformasi Indonesia hal. 73-74). Menumpang kata “diperlakukan tidak adil”, pastilah maksudnya kaum marginal, pemulung, pedagang kaki lima, para jelata, kaum buruh, petani petani tradisonal yang tertindas hutang, para pengemis dan kaum nelayan yang hidup susah di pantai. Terlebih pantai menjadi lahan strategis untuk menghancurkan aqidah Islam, melebur kaum muslimin MENYATU DALAM SERDADU SERDADU YESUS.
ANAK ANAK MARIA MENGEPUNG INDONESIA
1. Pendeta Muhammad Ali Markus menyusuri pesisir pantai Madura,(Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan) mengaku habib, mengaku temannya Habib Riziq, mengaku bersama Ja’far, membodohi masyarakat Islam Madura, termasuk juga membodohi Kristen sendiri dengan cerita cerita : INILAH CERITA DUSTANYA: Berhaya tentang Sumur Zamzam ada di Madina ( lucu, sumur Zamzam kan di Mekkah bib palsu), mengaku sebagai pejuang di Afghanistan, mengaku bersama ustad ja’far di ambon , sebuah bualan dusta besarnya terekam dalam VCD yang disebar luaskan di Madura. Selain itu juga Pendeta Sapto Edhi Mantan Preman dan Pembunuh adalah Pendeta Paling Radikal ketika melakukan penghinaan terhadap Islam. Ini lagi Kerjaannya Kristen, Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, berencana melakukan koordinasi dengan polisi terkait penyebaran buku dan video compact disk (VCD) yang melecehkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Ketua MUI Sumenep, KH A Shafraji menjelaskan, Jumat, pihaknya telah menerima laporan dari Pengurus MUI Kecamatan Pasongsongan tentang adanya penyebaran buku dan VCD yang melecehkan ajaran Islam di dua desa, yakni Desa Soddara dan Panaongan. (itulah aksi Kristen di Madura)

2. Pendeta Edhie Sapto dan blog Bellarminus Bekasi, menghujat Al-Quran diluar batas, dengan blognya, “ Habisi Islam di Indonesia”, dia seorang Kristen, mantan pembunuh bayaran…pantas aja sikapnya ngawur, dibekasi dia bukan saja mencari masalah , bahkan Midras Tilmiddimnya menjadi media memaki maki Islam.

3. Kristenisasi di Sampang, oleh Sapto edhi juga, mengaku tidak memaksa, tetapi penghujatannya diluar batas kewajaran, lewat Midras Tilmiddim pula,
Kajian perbandingan agama yang dituangkan di Midrash Talmiddim, sarat pelecehan terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, misal?nya: menyatakan Allah dalam Al-Quran itu tidak memberi ampunan (tidak Maha Pengampun) dan membiarkan orang yang sesat dalam kesesatan (tidak memberikan petunjuk); memfitnah Nabi Muhammad dengan tuduhan pernah jadi orang kafir karena pernah beribadah dengan cara semedi di goa; Muhammad adalah seorang pemarah yang membuat ayat Al-Qur?an untuk melampiaskan kemarahan kepada orang Yahudi; Nabi Muhammad tidak memiliki mukjizat; dll. Tentang Edhi Sapto, korbanya
Heryanto, salah seorang korban yang berasal dari Manado mengalami berbagai siksaan akibat menolak masuk Kristen. Ia sempat disiksa, ditelanjangi dan dikunci dalam kamar tanpa diberi makan dan minum beberapa hari. Karena tetap bertahan dalam Islam, Edhie mengancam Heryanto dengan menyatakan bahwa dulu dia adalah preman dan pembunuh. Tak lama kemudian, markas pemurtadan Edhie Sapto digerebeg oleh FBUI bekerja sama dengan FAKTA, Brigade Ababil, MUI dan warga setempat. Aparat kepolisian dan kelurahan tak ketinggalan ikut mengamankan pendeta ini. Setelah ketangkap basah, maka Edhie menyerahkan penghuni gelap di yayasannya kepada Panglima Brigade Ababil, KH Sulaiman Zachawerus (3/5/2002). Lalu masih pantaskah Kristen disebut membawa damai, damai untuk siapa ?

4. Peristiwa sampit berangka dari antara agama dan kesukuan, dominasi Kristen dayak , senandung para politisi Kristen yang memanghendaki Orang Madura hengkang dari Kalteng. Di kalimantan Tengah orang-orang-dayak ini banyak bekerja sebagai pegawai Pemda dan Politisi Kalteng, mereka sangat militant dalam keyakinan agama Nasrani mereka. Sikap diskriminatif terhadap pegawai muslim pun sering terjadi…

5. Pantai Selatan Pulau Jawa Menjadi Target Kristenisasi , Mulai dari Malang Selatan, Blitar Selatan, Yogya Selatan, hingga puncak selatan paling barat dari pulau jawa, menjadi sarang penyamun iman Kristenisasi

6. CahayaTV ?atau apapun namanya? bakal tampil menjadi andalan proyek misionaris dengan target ratusan juta warga berbahasa Indonesia dan Melayu. Ini akan bersinergi dengan proyek-proyek James T Riady sebelumnya, seperti pembangunan sekolah-sekolah Kristen di daerah miskin dan terpencil. Melalui Harvest International Curriculum (HIC), mereka sedang menyiapkan 200 ribu pastor dan pekerja misionaris yang siap bergerilya memurtadkan jutaan Muslim Indonesia.

7. Acara bazar dan pembagian sembako ternyata berubah menjadi kegiatan kebak-tian, serta berbagai ibadah Kristen padahal ribuan orang yang hadir dalam acara itu kalangan umat Islam terutama ibu-ibu dengan berbusana Muslimah datang dari berbagai daerah, seperti Muara Gembong, Cabang Bungin, Pekayon, Jakarta, dan Tangerang.
Peristiwa naas tersebut terjadi pada Sabtu (1/12/2007). Saksi dari Muara Gem-bong menyatakan, Lurah Muara Gembong mengajak warganya untuk mengikuti bazaar dan pembagian sembako di Galaxi. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya acara tersebut merupakan rangkaian peresmian gereja, sehingga berangkatlah sekitar 1200-an ibu-ibu dan anak-anak dengan menyewa 21 bus.Karena semua mendengar nyanyi-nyanyi haleluya dan pendeta berkoar-koar lalu rombongan saksi tadi merasa tertipu sehingga meminta pulang. Lalu rombongan melaksanakan shalat maghrib di masjid terdekat, kemudian pulang. Saksi tadi pun menyatakan Kepala Desa Lenggah Sari dan Jaya Sakti desa-desa lain di Muara Gembong ikut acara itu.

8. Kasus ini terjadi di Jakarta. Misionaris yang satu ini, menyamar dengan menggu-nakan jilbab dan mencari mangsa di Masjid Istiqlal. Salah satu korbannya adalah Endah. Setelah berkenalan Endah hanyut mende-ngar omongan ‘muslimah’ itu. Pertemuan terus berlanjut sampai Endah kuliah di Ma’had Al-Hikmah Jakarta Selatan. ‘Muslimah’ itu seringkali mendatangi Endah di Ma’had. Mereka sering kumpul dengan beberapa orang, seperti halnya sebuah pengajian.
Mulanya, materi yang disampaikan dalam pengajian itu tidak ada yang berma-salah. Namun lama-kelamaan menyimpang. Tidak lagi berpandangan positif terhadap Islam. Bahkan sering kali memfitnah Allah, Islam dan Rasul-Nya.

9. Pemerkosaan. Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, diculik dan dijebak oleh aktivis Kristen. Ia diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tak berdaya, ia dibaptis.
Penculikan. Linda, siswi SPK Aisyah Padang, diculik, disekap, dan diteror secara kejiwaan supaya murtad ke Kristen dan menyembah Yesus Kristus.

10. Proyek ini bertujuan “mewujudkan Kerajaan Allah di bumi Parahyangan menyongsong abad XXI”. Menurut Hendrik Kraemer, peneliti dan penginjil dari Belanda, Jawa Barat adalah wilayah “paling gelap” di Indonesia dan sangat tertutup bagi Injil. Karena itu aktivis DWM bertekad, “Kita harus merebut tanah Pasundan bagi Kristus.”

Yerikho 2000 juga digerakkan di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Pusat kegiatan DWM berada di kawasan Rawamangun (Jakarta Timur) dan Tangerang (Banten).

11. Ini hanya sebagian kecil dai gerak Kristenisi yang Jelas berbagai cara dipakai untuk menghancurka Islam di Indonesia.

Warning: Jagalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka (kristenisasi ) yang mengintai, dima saja anda berada !!!!!!!!
SUMBER HTTP://ZULKARNAIN-EL-MADURY.BLOGSPOT.COM/

Advertisements