Sejak kapan Muhammadiyah harus paranoid wahabi,  bermakmum pada paranoid muslim tradisional yg menebarkan fitnah anti wahabi, melukiskan WAHABI sebagai momok menakutkan, terutama lontaran Najib Burhani yang terkesan terjangkis virus syiah dan Aswaja dalam membiaskan kebencian pada wahabi, turut mengesankan wahabi sebagai musuh Muhammadiyah,  terkesan sangat janggal dan terpaksa, bukan hasil nalar ilmiah secara disiplin ilmu, melainkan sangat motif pengaruh x dari mission hidden politik kelompok lain. Najib Burhani  terlalu gegabah mematok wahabi sebagai sosok bias dari kontribusi politis, padahal kenyataan atturasy islami menjadi hidup, terjadi dialog islam setelah terpasung dalam mazhab mazhab yg saling menutup diri, sehebat al azhar Kairo saja tidak sehebat wahabi dalam membangun dialog islam, bahkan sanggup membuat duania terbelalak. Bila tidak dan tanpa kehadirannya,  tidak akan pernah ada orang yg perduli membahas ilmu ilmu Islam. 

Ahmad Dahlan , seorang Ulama besar Muhammadiyah yang tidak bisa lepas dari kontribusi wahabi, kehadirannya di mekkah bukan di sekolah setingkat Kairo Mesir, namun besar diwilayah negeri wahabi, yg menjadi inspirasi kekuatannya mendirikan Muhammadiyah. Aneh kalau Muhammadiyah Studies menjadi sesak dada sama halnya aswaja, yg menjadi musuh bebuyutan hingga mengeluarkan jurus Drunken Master dalam menghadapi wahabi. Memilukan sikap Muhammadiyah Studies yg terjangkit paranoid anti wahabi, bahkan bukan memperbaiki  llangkah-langkah Muhammadiyah yg mengalami distorsi karena akibat masturbasi yang dilakukan orang orangnya yg menjauhkan Muhammadiyah dari oreintasi Islam sejati, mulai dari TK dan PTM seindonesia mengalami disgradasi nilai terpisah jauh dari agama.  Terjadi rebutan AUM dimana mana, hingga premanisme karena kebutaan agama , terjadi saling jotos merebutkan AUM DI WILAYAH JAKARTA.  Tentu karena prilaku dan tabiat  orang-orangnya yg jauh dari agama.

 

Kecenderungan untuk memahami agama yg makin gersang di Muhammadiyah,  dan kajian kajian politik yg lebih dibesar besarkan,  sangat merobah penampilan Muhammadiyah yg dulu menjadi lokomotif gerakan transendeltal uluhiyah dibawah amirul Muhammadiyah,  KH. Darwis. Akankah Muhammadiyah ini sebagaimana ujar KH. Jarnawi akan menjadi ormas KOSGORO,  tidak lagi agama menjadi tambatan. Sebagai dai Muhammadiyah yg banyak makan garam di Muhammadiyah,  sukar rasanya untuk mengembalikan gairah beragama Muhammadiyah yg sangat antusias rekotruksi kembali Muhammadiyah sebagai perkampungan ulama,  mencetak generasi muda Muhammadiyah yg tangguh agamanya,  mengembalikan kejayaan Muhammadiyah yg cendikiawan dan ulama. Bukan Muhammadiyah yang hedonis, dan matrìalis. Apalagi  paranoid wahabi, itu justru merugikan Muhammadiyah kedepannya. Kecuali bila mereka yg merasa jargon Muhammadiyah di Muhammadiyah studies bertobat dari kejumudannya yg dianggap modernis

Siapa dibalik paranoid wahabi sudah bisa ditebak,  kalau tidak syiah , pasti aswaja,  mungkinkah generasi anti wahabi yg tumbuh dan subur di tubuh Muhammadiyah adalah mereka, bisa di baca pola pikirnya?

 

Advertisements