2016-12-10-5
Tafsir Muhammadiyah mau dibawa kemana ?

Sedianya tafsir ini akan Launching pada tanggal 13 Desember 2016, di PP. Muhammadiyah, adalah sebuah tafsir, hasil karya tim  Mufassir Mufassir Muhaamadiyah, dibawa koordinasi Majelis Tajidid Dan Tarjih Muhammadiyah. Kalau dilihat perhalaman,  sama halnya dengan bunga rampai dari tulisan tulisan yang di tuangkan di SM [ Suara Muhammadiyah ], yang tentu saja perlu lebih jauh telaah mendalam, apakah benar penulisan tafsir At- Tanwir, memenuhi syarat untuk disebut tafsir, atau sekedar kumpulan artikel dari tim yang di himpun Majelis Tarjih, artinya masih himpunan fatwa fatwa Tafsir saja, tidak merupakan tafsir sebagaimana banyak kalangan Mufassir dari masa ke masa, hingga lahirnya tafsir At-tanwir model tim Majelis Tarjih.

Dari sebuah pertemuan komunitas pecinta tafsir, indikasi tafsir at- tanwir belum bisa untuk mewakili Muhaammadiyah, karena tafsir ini ditulis asal asalan, belum memenuhi martabat tulisan para Mufassir, mulai dari syarat syarat seorang Mufassir hingga metode penafsiran yang lebih mirip hanya merupakan refleksi pemikiran dari penulisnya yang secara kesantunan ulama tafsir belum terpenuhi menggagas tafsir tersebut.

Misalnya sosok Mufassirin Muhammdiayah ini bukanlah mereka yang punya gelar al hafidz, bukan penghafal Quran yang tentu saja runtun dengan keilmuannya secara disiplin Mufassirin, apakah al Hafidz .  Bisa disebut belum masuk kategore al Hafidz, sehingga dalam dailektika tafsir, tafsir at-Tanwir sangat banyak kelemahanya. Karena sosok sosok mufassir yang tergabung dalam Mufassir Muhammadiyah ini bukanlah ahli tafsir sekelas Sayyid Rasyid Ridha, Muhammad Abdu, Wahba Az- Zahayli, dan la Maraghi masih jauh panggang dari api. Apalagi kalau harus di bandingkan dengan kalangan al hafidz sekelas Ibnu katsir, Ibnu jarir , Qurtuby, Jalaluddin as -Suyuthi, tentu mereka belum pantas dan layak  disebut Mufassir.

Meskipun perumusan tafsir ini di komandani oleh 4 ulama tafsir Muhammadiyah, namun bukanlah ulama ulama sekelas tokoh tokoh yang  di sebutkan di atas, karena Al-quran saja mereka belum hafal, lalu bagaiaman bisa disebut sebagai tafsir, bila sekedar mengandailkan kemampuan menulis belaka, tidak berdasarkan disiplin ilmu sebagai tokoh yang layak disebut Mufassir, jadi kalau kwalifikasi, mereka tidaklah termasuk Mufassir dan masih belum layak menghadirkan tafsir ditengah kaum Muslimin, oleh sebab keilmuannya yang tidak memadai. Kendati juga ada dua tokoh yang bergelar profesor dan doktor yang turut terlibat, namun pasti akan masih menyisakan masalah dikemudian hari, karena sebab sebab orentasi penafsiran lebih pada bentuk tulisan artikel belaka, yang sebagian dijiplak dari tafsir tafsir yang ada.

Dianatar salah satu yang bisa menuai masalah, misalnya tentang tafsir surat Al Amaidah 51, terlalu monomental orang orang yang menulis Buku kebhinnekaan, tidak sportif menulis tafsir, sehingga sama sekali tak mempertimbangkan para Mufassir yang memang ahli, lebih pada konsep yang dituangkan maarif Institute dan Muhammadiyah Stuidies, formalitas pemikiran JIL yang dikemukan mereka, yang memandang tidak etis agama sebagai tolak ukur kepemimpinan, ini sangat jelas sebuah ulasan yang akan membuka peluang bencana lebih besar lagi terjadi di dalam tubuh umat Islam. Kita bisa lihat tulisan mereka seperti ini :

“Dalam konteks keindonesiaan, pemimpin niscaya dipilih dengan seksama dari anak bangsa yang terbaik ditinjau dari berbagai aspeknya. Tidak pada tempatnya seorang dipilih menjadi pemimpin karena faktor kesamaan golongan, suku, agama, organisasi massa, dan partai politik semata. Dalam memilih pemimpin janganlah seperti membeli kucing dalam karung .” [Juz I, Hal. 439 alinea 1].

Tulisan yang mencerminkan bentuk mengenyampingkan agama yang harus menjadi pilihan, dan konteks keindonesiaan yang diutamakan dalam merangsang warga Muhammadiyah, ini sebenarnya sebuah kerancuan berpikir, selain sangat tidak teologis islami, juga menyangsikan orang orang yang beragama, seolah orang beragama tak akan pernah mampu membawa umat Isndonesia lebih baik, kecuali keindonesian yang dijadikan kepemimpinan. Adalah sebuah kontribusi pemikiran paganisme tingkat tinggi yang dihidangkan pakar tafsir, masih stagnan pada konsep pluralisme yang sangat membahayakan bagi umat Islam kedepan.

Bahkan tulisan ini sangat bertentangan dengan salah satu pragraf dari tulisan yang tertuang didalam tafsir tersebut pada halaman 375 alinea pertama yang menyebutkan :

“Di masa sekarang, cukup banyak orang yang memusuhi kebenaran, misalnya tidak mau secara konsisten melaksanakan kebenaran ajaran agama Islam, padahal mereka mengakui kebenaran Islam. Dengan demikian, orang yang seperti itu, disebut dengan orang-orang yang ingkar. Allah memusuhi orang-orang yang ingkar tersebut, baik yang berada di luar Islam, maupun yang menyatakan dirinya seorang muslim, akan tetapi tidak melaksanakan ajaran agama yang dianutnya”.

Terjadi paradok tulisan Mufasir Muhammadiyah, kalau dikaitkan dengan tulisan sebelumnya, satu menggunakan teori Keindonesian dengan mengerdilkan agama dan satu sisi dengan saklek mentertejemahkan ketidak seriusan orang beragama,  bahwa orang yang centang perenang dalam agama adalah musuh Allah. Dua tulisan yang berbeda dan sangat rentan dengan masalah kelak dikemudian hari, selayaknya bisa menyadarkan para pelaku tafsir tersebut, untuk tidak mempermainkan ayat ayat Allah, karena dampaknya anak cucu kita di Muhammadiyah yang akan memikul buahnya.

Advertisements